Jumat, 13 September 2013

Memori Pohon Jambu


Sepasang pohon jambu kesenangan. Barangkali itu nama yang akan kuberikan pada dua pohon yang ada di belakang rumah saat masa kecil dulu. Sebab saat memanjat pohonnya, rasanya hatiku senang. Sambil menikmati beberapa buah jambu aku bisa memandangi orang-orang yang lewat dari bawah pohon .

Satu pohon jambu air dan satunya pohon jambu biji. Halaman belakang rumahku tak terlalu luas dan tidak tertata rapi, tapi paling tidak, bersih dari sampah-sampah. Dua bekas kolam ikan saat itu tinggal kenangan, telah kering dengan bekas lumut yang mengering dan bahan semennya retak-retak. Entah mengapa, dua bekas kolam ikan rasanya membuat halaman itu buruk. Untungnya ada sepasang pohon jambu kesayangan, satu di bagian kanan dan satu lagi di kiri.

Aku tahu banyak anak-anak tetangga yang tergiur melihat pohon jambu kami saat berbuah. Jambu airnya tidak terlalu merah tapi rasanya manis dan dagingnya empuk. Sementara buah jambu bijinya sangat menarik jika warnanya mulai menguning dan mulai bercampur dengan warna hijau, rasanya manis pula. Jambu biji dengan warna hijau kekuningan, setengah matang dan rasanya manis adalah pilihan paling top untuk disantap, jangan tunggu hingga berwarna kuning seluruhnya.

Hampir setiap hari aku mengunjungi sepasang pohon jambu kesenangan. Ketika aku dan teman-temanku tidak bermain, maka halaman belakang rumah adalah tujuan. Saat kakak-kakakku tidur siang atau pergi les, aku memilih memanjat pohon jambu. Memang, anak-anak seusiaku paling tidak suka disuruh tidur siang. Saat itu usiaku antara sembilan sampai sepuluh tahun.

Pohon jambu biji lebih sering kupanjat dibandingkan jambu air. Ranting-rantingnya lebih kokoh dan lebih banyak cabang-cabang lebar untuk bertengger. Rasanya lucu kalau kuingat lagi sekarang. Seorang anak perempuan yang suka memanjat dan kadang-kadang memakai rok. Jangan-jangan dulu ada yang menyebutku monyet betina kecil yang pakai rok. Ha..ha..barangkali saja. Aku ingat dulu yang paling sering aku pakai adalah rok balon berwana hijau muda. Rok itu benar-benar matching dengan warna dedaunan jambu.

Lima belas, dua puluh, bahkan mungkin tiga puluh menit kuhabiskan waktu bertengger di atas pohon jambu. Sisi favoritku adalah cabang besar yang dekat dengan tembok rumah yang membatasi halaman dengan jalan di luar. Sebenarnya bisa dikatakan setelah gigitan pertama atau kedua, aku mulai bosan dengan rasa jambu biji itu. Tapi kenikmatannya justru saat nongkrong di atas, melihat ada buah yang mulai menguning, berusaha meraihnya dengan mudah maupun susah payah dan hap…akhirnya bisa kuraih. Puas rasanya, saat jambu yang moncongnya meruncing,  berwarna hijau kekuningan dan mengkilap karena terlindung dari sinar matahari kini ada dalam genggamanku. Jambu-jambu yang kupetik kutaruh di dalam kantong rok dan beberapa kusantap sambil memperhatikan orang-orang yang lewat. Kuperhatikan saat beberapa anak SMP dan SMA pulang sore hari, bidan tetangga belakang rumah pulang dari Rumah Sakit Umum dan sesekali menyapa teman sebayaku yang keluar setelah tidur siang. Satu lagi yang paling kusukai adalah saat angin sepoi-sepoi berhembus. Rasanya aku ingin tinggal selamanya di pohon itu, tapi kalau anginnya kencang ada rasa takut bakal jatuh.

Kadang-kadang hasil jambu petikan kubawa turun, dan kuletakkan di meja  makan. Tapi sering tak seorang pun yang tertarik dengan jambu-jambu itu. Bahkan kadang dibiarkan begitu saja hingga akhirnya dibuang esok harinya. Selera anak-anak memang berbeda dengang selera orang dewasa. Itulah kesimpulanku sekarang.

Pernah saat musim jambu, beberapa anak tetangga yang terkenal nakal melempari pohon jambu. Batu-batu tak jarang meleset dan justru sering mengenai atap dan dinding rumah. Solusinya, kakakku mengizinkan mereka masuk pagar dan memanjat pohon jambu. Segerombolan anak-anak rame-rame masuk, sebagian naik sebagian lagi di bawah menangkap jambu petikan. Saat itu aku rasanya sebal sekali karena anak-anak itu berisik bahkan ada yang berkelahi karena berebut jambu. Seakan-akan mereka berkuasa atas sepasang jambu kesayanganku. Kalau tak salah ingat, hasil petikan mereka sampai beberapa kantung plastik. Setelah puas, anak-anak itu mengucapkan terimakasih sambil berlarian.

Kata mamaku, punya pohon buah itu memang serba salah apalagi banyak anak-anak di sekitar lingkungan rumah. Di satu sisi menguntungkan bagi pemiliknya saat musim berbuah tapi di sisi lain bisa mengusik ketenangan karena akan banyak anak-anak yang mengincar. Dalam hati aku berkata berarti anak-anak tetangga pasti merasa iri terhadapku sebab aku bebas memetik buah jambu kapan saja apalagi jambu biji yang tidak mengenal musim.

Persisnya tak pernah kuingat apakah aku pernah dilarang memanjat atau tidak. Aktivitas itu menjadi bagian keseharian yang tidak bisa kulupakan. Mungkin mama dan kakakku hanya pernah mengingatkan agar aku berhati-hati memperhatikan mana cabang yang rapuh dan mana yang tidak. Tapi saat berayun di atas dahan, mana mungkin nasihat itu diingat lagi, yang ada hanya kesenangan bertengger, memetik dan merasakan tiupan angin sepoi-sepoi yang membuai kelopak mata hingga rasanya ingin tidur di atas dahan itu.

Memanjat pohon jambu tak pernah menjadi memori yang buruk, tak sekalipun aku jatuh dari pohoh bahkan tak pernah hampir jatuh. Kadang-kadang aku bangga dengan keahlianku memanjat. Saat  harus mengumpulkan keberanian pertama kali mencari bekas-bekas cabang yang kuat untuk naik ke cabang yang lebih tinggi. Menginjak remaja, pernah aku menanyakan teman-teman perempuanku apakah mereka pernah memanjat saat kecil. Ternyata hanya sebagian kecil yang bisa memanjat. Bahkan terakhir ku ketahui bahwa kakak-kakak perempuanku pun tak bisa memanjat pohon. Mungkin aku berbeda karena aku anak bontot dan dianggap lebih nakal dibanding kakak-kakakku.

Memori pohon jambu berakhir saat aku harus pindah ke luar kota. Kota baru dan rumah baru, bukan hal yang baru lagi sebab papaku sering berpindah tugas. Di rumah baru, tak ada satu pun pohon jambu di halamannya yang luas. Hanya ada beberapa pohon mangga di samping rumah. Masa itu, sepertinya gairahku memanjat pohon mulai surut. Alasannya aku sudah bertambah besar, pohon-pohon mangga tak memiliki banyak dahan melebar dan tak ketinggalan semutnya banyak.
Saat musim mangga, kami bisa memetik buahnya hingga sekarung lebih dan kami bagikan kepada tetangga. Memori jambu kini berganti memori mangga. Tapi  pohon jambu tetap mendapat tempat istimewa dalam kenanganku. Kadang-kadang aku bertanya dalam hati, apakah pohon-pohon jambu itu masih ada sekarang. Sepasang pohon kesenangan, namaku untuk mereka.

Tidak ada komentar: